Bentang 2018, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Blitar Kian Miris

Bentang 2018, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Blitar Kian Miris
ILLUSTRASI: Korban kekerasan anak. FOTO: DAILY TIMES

BLITAR | PETAPORTAL-Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diibaratkan seperti gunung es semakin tak bisa dipungkiri. Tak terkecuali di Kabupaten Blitar. Artinya, jumlah kekerasan yang dilaporkan bisa jadi beda dengan angka di lapangan.

Fenomena tersebut yang kemudian diduga membuat angka KDRT dengan korban perempuan dan anak dari tahun ke tahun semakin miris angka kejadiannya. Berdasarkan data yang ada di Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Pemkab Blitar, sepanjang bentang tahun 2018 kasusnya mengalami peningkatan hingga 50 persen dari tahun sebelumnya.

Fakta tersebut sepertinya membuat pelbagai upaya yang selama ini sudah dilakukan Pemkab Blitar untuk mencegah praktik KDRT seperti sia-sia. Kasi Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas PPKBP3A Pemkab Blitar, Iin Indiralita, merilis tahun 2018 lalu terdapat 102 kasus KDRT yang masuk ke mejanya. Rinciannya kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan ada 34 kasus, sedangkan terhadap anak mencapai 68 kasus.

"Peningkatannya itu cukup banyak ya. Kalau di sepanjang tahun 2017 itu total kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak ada 85 kasus. Mayoritas selama ini yang paling banyak kita tangani adalah kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak," kata dia, Sabtu (05/01/2019) siang.

Dia menjelaskan, dari sekian kasus tersebut ada beberapa dapat diselesaikan secara kekeluargaan memeski bebrapa kasus lainya harus melibatkan aparat penegak hukum.

"Banyak cara yang kita lakukan untuk menyelesaikan beberapa kasus itu, selain mediasi kita juga minta bantuan kepada aparat penegak hukum kalau itu memang diperlukan. Kalau mediasi sudah selesai, ya kita tidak melibatkan aparat penegak hukum," tandas Iin.

Pada bagian lain, dia mengingatkan yang perlu diwaspadai bahwa kekerasan di dalam rumah tangga terhadap perempuan merupakan fenomena gunung es. Artinya, jumlah kekerasan yang dilaporkan bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lapangan. Alasannya klasik. Kaum perempuan masih menganggap KDRT sebagai permasalahan pribadi  sehingga tidak etis jika sampai terbawa ke luar rumah, bahkan hingga diketahui publik.

Berkaitan itu, pihaknya akan terus berupaya memanfaatkan pelbagai ruang sosialiasi dan edukasi untuk mencegah tindakan KDRT kian meluas mengingat ini adalah maslaha serius. Ibarat luka fisik gampang disembuhkan. Tapi luka dalam (psikis) akan terbawa terus dalam kehidupan korban. Tertutama ana-anak yang menjadi korbannya. []

Bagikan melalui: