"Bukan" Perempuan Kedua

"Bukan" Perempuan Kedua
ILUSTRASI: "Bukan" Perempuan Kedua. FOTO: Google Image, diolah.

Tidak adil rasanya kalau perempuan kedua selalu dijadikan kambing hitam dan selalu menjadi tumpuan kesalahan.

BUDAYA | PETAPORTAL-Perempuan kedua, bisa merebut perhatian si laki-laki dari kekasih atau isteri pertamanya, karena dianggap mempunyai kelebihan yang tidak didapat dari kekasih atau isteri pertama.

Sebenarnya istilah perempuan kedua hanya sebutan bagi perempuan yang dianggap “mengganggu” suami atau kekasih orang lain. Selebihnya kalau ada lagi perempuan ketiga, keempat dan seterusnya mungkin sudah “kebablasan” kata orang Jawa, maka sudah menjadi sesuatu yang tidak terlalu istimewa.

Hm… Kalau begitu, kenapa nasib perempuan kedua ini selalu tidak lebih baik dari kekasih atau isteri pertama? Menyakitkan kelihatannya. Di saat kekasih atau isteri pertama- atau sebut saja perempuan pertama- karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sang laki-laki maka sang laki-laki mendapatkannya dari perempuan kedua. Tidak adil rasanya kalau perempuan kedua selalu dijadikan kambing hitam dan selalu menjadi tumpuan kesalahan.

Tetapi kalau kita melihat lagi dari kacamata umum, maka yang terlontar komentarnya adalah,“Kenapa mau dong dijadikan perempuan kedua? Seperti tidak ada laki-laki lain saja di dunia ini.” Perempuan kedua, berdasarkan pengamatan saya, bisa dibagi dalam beberapa kelompok.

Kelompok pertama–Dia rela menjadi perempuan kedua, atau bahkan “perempuan simpanan” yang statusnya pun disembunyikan, karena perasaan cinta yang benar-benar tulus kepada si laki-laki.

Tapi benarkah ini cinta? Apakah cinta harus dirasakan dengan sakit? Apakah cinta berarti harus menyiksa diri sendiri dengan menjadikan diri sendiri sebagai orang yang harus selalu disembunyikan? Apakah benar namanya cinta kalau si laki-laki sendiripun malu atau takut mengakui keberadaannya?

Kelompok kedua–Dia rela menjadi perempuan kedua karena tuntutan ekonomi. Daripada pusing-pusing membiayai hidup, lebih baik menjadi “perempuan simpanan” atau isteri kedua yang statusnya tetap saja sama, “tersembunyi”. Saya prihatin dengan perempuan dalam kelompok ini.

Perempuan seperti ini tidak bisa mandiri, dan merasa cukup puas hanya apabila kebutuhan hidupnya terjamin. Adakah cinta di sini? Mungkin saja ada. Tapi cinta itu sendiri rasanya tidak berakar kuat. Ketika sang laki-laki sudah tidak mampu lagi menopang hidupnya, maka cinta itu akan habis.

Kelompok ketiga – Dia rela menjadi perempuan kedua hanya karena dia butuh teman dalam kesendiriannya. Dia tidak terlalu memikirkan harta. Yang dibutuhkan hanya seseorang untuk berbagi cerita dan rasa. Jarang sekali pada kelompok ini yang menginginkan statusnya diketahui orang, bahkan mereka cenderung merasa aman apabila mereka tetap “tersembunyi”.

Rasa sayang mungkin ada. Rasa cinta? Mungkin juga ada, tapi mereka bisa mengatur emosi mereka sehingga tidak terkesan diumbar. Ini biasanya terjadi pada kelompok perempuan-perempuan yang merasa dirinya sudah mapan dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Apapun, dan berada dalam kelompok manapun, rasanya perempuan kedua akan selalu menjadi “orang yang bersalah”. Pada umumnya dan pada kondisi normal dalam satu hubungan percintaan hanya ada “satu laki-laki” dan “satu perempuan”.

Perempuan kedua akan selalu mendapat cemoohan dan caci maki apabila keberadaannya terungkap dengan cara yang tidak baik. Berbeda dengan keberadaan para isteri nabi yang memang diperisteri untuk menolong mereka dari lembah kemiskinan.

Bagi para laki-laki Islam yang juga beranggapan nabi saja bisa punya isteri lebih dari satu, dan kemudian mereka “ikut-ikutan” mempunyai isteri lebih dari satu, mungkin hal itu juga sah-sah saja, karena mereka pun punya alasan yang menurut mereka juga baik. Paling tidak, isteri kedua, ketiga, dan seterusnya dari mereka memang secara “gentleman” diakuinya di masyarakat.

Uniknya, nenek saya, sengaja melamarkan para perempuan yang menarik perhatian kakek saya, hanya untuk menghindari kakek saya dari perzinahan. Ketika dia melihat gelagat suaminya mulai melirik-lirik perempuan yang disukainya, dia tidak melabrak perempuan itu ataupun memarahi suaminya.

Ditanya suaminya baik-baik apakah memang dia menyukai perempuan tersebut, dan ketika suaminya meng-iyakan, maka dia pergi melamarkan perempuan itu. Dan hal ini tidak hanya terjadi sekali, tapi sampai empat kali. Jadi, kakek saya total mempunyai 5 isteri! Saya sendiri kalau membayangkan bagaimana perasaan nenek saya, ngeri membayangkannya. Benarkah nenek saya bahagia melakukan itu?

Nenek saya adalah seorang perempuan yang percaya bahwa dalam agama Islam, berbakti kepada suami akan membuka jalannya lebih besar lagi menuju ke surga. Semakin banyak dia disakiti suaminya dan ketika dia bisa menerimanya dengan lapang dada, maka semakin banyak pahala yang dia terima, dan semakin mulus jalannya untuk menuju ke surga. Kalau beliau masih hidup mungkin saya akan bertanya,

“Kenapa nggak pilih jalan lain ke surga, Grandma? Kan masih banyak jalan lain!” Jadi sebenarnya, salahkah menjadi Perempuan Kedua? Kebanyakan orang akan mengatakan, salah ! Terutama para perempuan. Sebagian laki-laki akan mengatakan “yahh sah-sah aja asal jangan sampai ketahuan”.

neu__jagurawalta@yahoo.co.id

Bagikan melalui: