Mengintip Modus Peredaran Rokok Ilegal di Blitar Raya

Mengintip Modus Peredaran Rokok Ilegal di Blitar Raya
ILLUSTRASI

BLITAR | PETAPORTAL-Membanjirnya peredaran rokok ilegal di tengah mesyarakat membuat Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Blitar mumet dan harus bekerja ekstra keras.

Kendati sepanjang 2018 petugas berhasil menyita sekitar 1,3 juta batang rokok ilegal dengan nilai sekitar Rp 1 miliar dari serangkaian operasi namun diyakini jumlah itu belum nenunjukkan hasil yang akurat.

Mengingat modus peredaran rokok terus berkembang. Untuk mengakali petugas, dalam praktiknya para pelaku berkamuflase di ruang publik dengan menggunakan sepeda motor.

Tapi kali ini mereka membawa rokok ilegal dengan menggunakan tas ransel. Tidak memakai model keranjang seperti sebelum-sebelumnya. Para pelaku melakukan transaksi di jalan atau di ruang publik lainnya. Bukan di toko ataupun di rumah-rumah.

Sebelumnya, peredaran rokok ilegal ini nyaris terang-terangan dengan membawa mobil bok maupun sepeda motor yang ada keranjangnya. Mereka langsung mengantarkan rokok-rokok ilegal tersebut ke toko-toko ataupun ke rumah.

Modus baru ini diakui Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Blitar, M Arif Setijo Noegroho, membuat pihaknya kesulitan melacak titik-titik yang dijadikan transaksi rokok ilegal.

Bahkan Arif menyebut, sekarang ini peredaran rokok ilegal di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya yakni Kabupaten dan Kota Blitar, Tulungagung dan Trenggalek, modusnya mirip dengan peredaran narkoba. Dilakukan secara tertutup.

Jika tidak kenal sulit untuk bisa mendapatkan pasokan rokok ilegal. Yang bikin tambah mumet, belakangan ini pengedarnya semakin banyak tapi barang yang dibawa sedikit. Tidak seperti dulu, mereka membawa mobil untuk mengedarkan rokok ilegal.

"Sekarang para pelaku mengedarkan rokok ilegal dalam jumlah kecil-kecil tapi pelakunya banyak. Akibatnya kami cukup kesulitan melacak mereka. Apalagi, sekarang ini kalau tidak kenal tidak akan dilayani," tutur Arif di sela  pemusnahan barang bukti rokok ilegal di Rumah Peyimpanan Benda Sitaan (Rubasan) Kelas II Blitar, pertengahan Desember tahun 2018 lalu.

Dia menjelaskan, rokok hasil sitaaan yang dimusnahkan tersebut mayoritas tidak bercukai. Kalaupun ada cukainya tapi palsu. Jumlah rokok ilegal yang dimusnahkan sebanyak 368.262 batang atau senilai Rp 262 juta.

Jumlah itu hanya sekitar seperempat dari jumlah rokok yang disita petugas Bea dan Cukai selama 2018 yakni sekitar 1,3 juta batang.

Tipe pelanggaran yang masih mendominasi yakni rokok polos atau tidak dilekati pita cukai. Sisanya, merupakan rokok dengan pita cukai palsu serta sebagian lainnya rokok dengan pita bekas.

Menurut Arif, secara kuantitas jumlah rokok ilegal yang disita petugas pada 2018 ini turun dibandingkan tahun 2017. Hanya saja, dari segi penindakan sepanjang kurun waktu 2018  jumlahnya justru naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Ada tiga pengedar rokok ilegal yang ditindak. Tiga pengedar itu diproses secara hukum. Ketiga pengedar tersebut masing-masing dua dari Blitar dan satunya dari Tulungagung. []

Bagikan melalui: